• Bungkil kedelai, sejarah dan perkembangan penggunaannya

    Bungkil kedelai, sejarah dan perkembangan penggunaannya

    bungkil kedelaiDalam dunia pakan ternak, dikenal dua sumber protein, yaitu hewani dan nabati. Sumber protein hewani bisa berasal dari tepung daging dan tulang (meat bone meal), serta tepung ikan (fish meal). Kemudian, sumber protein nabati, kita mengenal Meat bone meal atau bungkil kedelai yang merupakan produk sampingan dari pengolahan minyak kedelai. Penggunaan bungkil kedelai sebagai pakan ternak sudah dikenal mampu memberikan hasil yang signifikan. Namun, melihat penggunaan bungkil kedelai yang intensif dewasa ini, pasti anda tidak pernah membayangkan bahwa tidak lebih dari 50 tahun yang lalu, bungkil kedelai bukan merupakan sumber protein yang utama. Diawal tahun 1940an, industri pakan ternak tidak di dominasi oleh ketersediaan bungkil kedelai, namun pada waktu itu didominasi oleh pabrik penggiling tepung besar, yang menggunakan pakan ternak hanya sebagai outlet untuk menjual dedak gandum atau produk sampingan dari penggilingan lainnya.

    Pakan ternak hewani merupakan pakan ternak yang lebih disukai pada waktu itu, bukan bungkil kedelai. Pakan ternak dari sumber hewani lebih disukai bukan hanya karena sumber protein yang terkandung di dalamnya, tapi juga karena merupakan pakan yang kaya akan vitamin dan mineral. Perubahan pandangan terhadap bungkil kedelai muncul pada permulaan perang dunia ke-2 dimana permintaan daging meningkat, akan tetapi persediaan protein dari daging sangat terbatas. Sehingga, fokus perhatian pada masa itu beralih ke bungkil kedelai sebagai supplemen protein alternatif yang berpotensi bisa dikembangkan.

    Ada beberapa faktor yang mebuat penggunaan serta permintaan bungkil kedelai meningkat pesat pada masa itu. Yang pertama adalah pesatnya pengembangan proses pengolahan bungkil kedelai untuk denaturasi kandungan tripsin di dalamnya. Kemudian, perkembangan sistem yang semakin mendukung dihasilkannya vitamin dari sintesis kimia dan fermentasi dalam bungkil kedelai. Faktor terakhir yang juga tidak kalah penting adalah, penemuan vitamin B12 pada tahun 1948, hal ini juga berkontribusi pada tingginya penggunaan bungkil kedelai dan di saat yang sama mengakhiri anggapan bahwa pakan ternak dan sumber protein hanya bisa didapatkan dari hewan tapi juga dari tumbuhan, seperti bungkil kedelai.

     

     

    Incoming search terms:

    apa itu bungkil kedelai (171),pengertian bungkil kedelai (116),proses pembuatan bungkil kedelai (77),pembuatan bungkil kedelai (40),pengertian bungkil kelapa (26),sejarah protein (26),bungkil kedelai india (23),bungkil kopra (17),proses pembuatan tepung bungkil kedelai (14),bungkil kacang kedele (12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *